Langsung ke konten utama

Prof Ashari, Tangan Dingin Sang Rektor Visioner

Tulisan ini dipersembahkan kepada Prof  Dr Ir. Mochamad Ashari, M.Eng, IPU,  AEng. yang merupakan rektor ke-12 ITS, periode 2019-2024. Seluruh tulisan ini berupa pandangan saya pribadi, sebagai ucapan terima kasih, meski disajikan seakan penuh kritikan pada bagian awalnya.

Pertama saya mengenal nama ini, saya ingat dari salah satu dosen saya sewaktu saya masih menempuh sarjana. Saya lupa persis kapan, tetapi saya diperkenalkan tentang bagaimana visionernya Prof Ashari dan sedikit cuplikan peran beliau membangun Telkom University di Bandung.

Ya, sebelum beliau dinobatkan sebagai rektor, saya berpikir bahwa 'apabila beliau jadi, sepertinya akan berpotensi revolusioner, atau bakal agak ekstrem dalam kebijakan'. Bagi saya, itu cukup menarik, tetapi ada ketakutan di benak saya dengan potensi ekstrem kebijakan beliau. Kala beliau dinobatkan sebagai rektor terpilih, Prof Ashari langsung bergerak cepat yang tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat langkah beliau.

Saya masih ingat, di tahun beliau pertama menjabat (2019), sebuah kebijakan yang, dari kacamata saya yang kala itu mahasiswa sarjana, sangat kontroversial, digadang-gadang dan akhirnya rilis sekitar masa saya di wisuda sarjana, atau setelahnya (Okt 2020). Kebijakan itu adalah merombak sistem SKEM yang telah berlaku setidaknya 2-3 era rektor (SKEM 2009), yang menandakan ini adalah sebuah perubahan ekstrem dan berani dari rektor yang baru memulai.

Sistem SKEM yang dirilis masa beliau, dari kacamata mahasiswa SKEM lama, bisa dikatakan terbilang "gila", bahkan saya sempat menganggap angkatan bawah "kasihan" dan pada derajat tertentu mempertanyakan rencana SKEM beliau. Saya tidak sendiri dalam hal ini, banyak pertentangan keras dari pihak mahasiswa, tetapi pada akhirnya, dengan sedikit revisi yang saya spekulasi sebagai masukan MWA, terutama dari wakil mahasiswa, sebagian besar perombakan ekstrem ini tetap bertahan. Sederhananya, SKEM baru sekarang menuntut mahasiswa berfokus pada hal non-akademik seperti perlombaan, olahraga, dan internasionalisasi (saya ingat ada 4 aspek, tetapi ingatan saya soal SKEM baru ini jelek karena salah satu revisi itu mengecualikan angkatan 2017 ke atas, saya termasuk di antaranya, dari aturan ini). 

Kebijakan kontroversial berikutnya yang saya ingat jelas adalah perihal pendirian Pendidikan Dokter, beserta Fakultas Kedokteran dan Kesehatan yang isunya hangat sekitar 2021. Banyak kenalan saya, baik alumni maupun mahasiswa aktif, mempertanyakan langkah keputusan ini, yang terkesan konyol dan tidak masuk akal dengan status Institut dari ITS sendiri.

Dua ini adalah kebijakan kontroversial beliau yang paling saya ingat. Ada banyak lagi kebijakan lain yang juga memicu ketidaksukaan, terutama dari kalangan mahasiswa yang acapkali dapat short-end of the stick dari kebijakan beliau.

Ya, semua kebijakan kontroversial tadi disorot seluruhnya dari kacamata negatif, seakan kebijakan itu merugikan atau di luar nalar. Sebagai seorang mahasiswa, saya menyuarakan pandangan dari sudut rekan-rekan mahasiswa yang terpaku pada bagaimana menyusahkannya kebijakan-kebijakan beliau.

Sekarang, saya hadir sebagai wisudawan magister pada 21 April 2024, hanya berselang 9 hari sebelum beliau berhenti sebagai rektor dan digantikan Dr. Bambang Pramujati yang kala saya menulis, adalah wakil rektor 4 di era Prof Ashari.

Perjalanan waktu dari masa-masa saya memandang jelek kebijakan kontroversial beliau menunjukkan betapa naif diri saya menilai berdasarkan opini sekitar dan sebuah rigiditas yang mengunci potensi berkembang.

Berdasarkan presentasi yang disajikan Prof Ashari dan jajaran beliau sebagai pertanggungjawaban di hadapan kami para wisudawan, saya menyimpulkan kebijakan Prof Ashari terkait SKEM telah merombak ITS untuk semakin kompetitif. Tidak mudah mendapatkan kampus dengan ketangguhan luar biasa, dimana produktivitas civitas akademika nya bisa dikatakan sekitar 1.5-2.5x dari kampus lainnya. Struktur SKEM yang diwujudkan pada zaman beliau jelas berkontribusi dimana mahasiswa dituntut menghasilkan prestasi secara berkelanjutan dengan sistem yang ada, menciptakan iklim yang mengeluarkan sebanyak mungkin kemampuan terpendam mahasiswa.

Sementara kebijakan beliau mendirikan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, selanjutnya saya tulis FKK, adalah sebuah langkah yang sangat taktis dan penuh risiko. Membuka FKK tentu mempertanyakan kata Institut Teknik, tetapi beliau tidak ingin terlalu kaku dan mencoba mewujudkan Kedokteran dalam Institut Teknik. Jika IPB bisa, kenapa ITS tidak?

Selain itu, beliau membaca potensi peluang dengan sangat baik. Ada sebuah informasi di kalangan petinggi kampus di Indonesia terkait kebijakan FK yang saya dapatkan dari ring 1 salah satu kampus daerah, yang membuat saya menyadari kemungkinan peluang ini yang di baca beliau saat keputusan pemerintah ini belum final.

Kemampuan beliau untuk mengambil risiko demi mengejar sebuah masa depan yang baik untuk ITS ini sangat hebat, dan menurut saya bisa dihitung visioner. Beliau memanfaatkan informasi yang ada, ditambah dengan mengambil risiko di masa kini demi masa depan, layak untuk menjadi pembelajaran bagi saya. 

Terima kasih banyak telah menunjukkan kepada saya bahwa diperlukan keberanian dalam membuat keputusan yang tidak mengenakkan demi jangka panjang, kesabaran menghadapi mereka yang tidak memahami apa yang kita perjuangkan, dan kesungguhan untuk tidak retak oleh tekanan dalam mencapai impian. Meski saya tidak pernah menjadi murid Anda secara langsung, saya banyak belajar dari Anda, Prof Ashari.

Kalau kamu merasa tulisan ini menarik, menginspirasi, atau bermanfaat, kamu bisa dukung aku di Karyakarsa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Preparing Anaconda with Tensorflow [ACTUALLY WORKED FOR ME 2024]

Make sure to follow this with perfect order: 1. conda create -n tf_gpu tensorflow-gpu 2. conda activate tf_gpu 3. pip install numpy==1.23.4 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 4. pip install tensorflow-gpu==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 5. pip install tensorflow==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] (You may skip the first two test, but it helps ensure your environment is set up right)   TRIVIA: - There's no 2.11 version of Tensorflow GPU on pip as shown below: ERROR: Could not find a version that satisfies the requirement tensorflow-gpu==2.11 (from versions: 2.5.0, 2.5.1, 2.5.2, 2.5.3, 2.6.0, 2.6.1, 2.6.2, 2.6.3, 2.6.4, 2.6.5, 2.7.0rc0, 2.7.0rc1, 2.7.0, 2.7.1, 2.7.2, 2.7.3, 2.7.4, 2.8.0rc0, 2.8.0rc1, 2.8.0, 2.8.1, 2.8.2, 2.8.3, 2.8.4, 2.9.0rc0, 2.9.0rc1, 2.9.0rc2, 2.9.0, 2.9.1, 2.9.2, 2.9.3, 2.10.0rc0, 2.10.0rc1, 2.10.0rc2, 2.10.0rc3, 2.1...

Kenapa Sekarang?

Years ago, I seek it. Dulu, aku berjuang untuk bisa melewati batas teman, trying to be someone that you consider as dearest. Yes, that's back then. As I said, had it been years ago, I would have straight out say YES out of sheer dumbness, or tenacity, or both. Tabun. I used to be full of desire to get you to acknowledge me, then. Sungguh lucu sekali, I would circumvent and try to just get any chance to meet with you. Aku menginginkan lebih, dulu. But no, it has always been someone else. Someone else get to be your priority, your attention. Berharap lebih adalah kesalahanku, dan aku selalu menganggapnya demikian. Why chase over the skies you cannot reach? I almost burned the entire bridge, truly. Only one more step and I know the entire relationship will turn into nothing more than smoldering ashes in the seas of lost time. You know, had you not talk to me within the short time of me settling my almost 9-years long illusion, perhaps the bridge had been burned completely, as I had wi...