Langsung ke konten utama

Perkuliahan: Jika Aku Bisa Bertemu Kamu 4 Tahun Lagi [Semester 4]

 "Dalam setiap kehidupan, ada titik dimana semuanya berubah. Apa yang kamu ketahui selama ini, dibalikkan pada tingkat dasarnya."

"Bagiku, siklus kehidupanku seringkali berosiliasi setiap 3 tahun sekali. Entah, hanya persepsiku saja. Kehidupan tidak sesingkat itu dalam siklusnya, seharusnya."


Semester dengan masa tersuram. Sebagai pembukaan, saya akan berikan informasi IP saya di semester adalah 2,74. Sebagai tambahan, nilai saya dua semester di atasnya adalah di atas 3,60. Ya, saya mahasiswa cap perfeksionis ambisius. Dengan kata lain, satu semester ini mengombang-ambingkan semua ambisi saya.

Di saat bersamaan, banyak privilege yang harus saya serahkan kembali. Orang tua memberlakukan restriksi yang ketat, mengurangi gerakan saya pada tahap ini. Sebut saja konsekuensi saya tidak bisa menjanjikan akademik yang setara dengan privilege tersebut.

Pada tahap ini, saya hanya bisa mengambil 19 sks. 16 sks saya ambil, dan awalnya saya mempertimbangkan mengulang 1 mata kuliah. Namun, kala itu orang tua saya menentang keras rencana saya dan mengarahkan saya untuk mengambil semester atas. Dosen wali saya mengajukan saya ke satu kelas: Desain Permainan.

Ya, kelas yang saya incar semenjak maba adalah kelas permainan. Ada 3 di jurusan saya: Desain, Pemograman, dan Kecerdasan Komputasional. Jadi, kelas ini adalah kelas pertama.

Ada beberapa hal yang berubah dari ritme semester silam yang ramai. Semester ini terlalu sepi. Tidak ada teman, tidak organisasi, tidak ada apapun. Semuanya seperti berhenti bagiku. Pada satu titik, aku jenuh karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Kesempatan muncul kala laboratorium membuka rekrutmennya. Orang tua memberikan izin, dan aku mendaftarkan diri. Alasan aku memilih lab adalah karena mereka bisa membuatku menyalurkan keinginan belajar dunia permainan.

Setelah satu seleksi ketat, aku dan teman-teman yang mendaftar lainnya lolos semua, kecuali satu orang. Dan setelah itu, dimulai aku mencoba beradaptasi dengan kehidupan lab. Aku masih merasa asing dengan semuanya, tapi aku mencoba saja. Lagipula, kehidupan organisasiku nyaris sepenuhnya terhenti. UKM saja hanya saat-saat urgent baru hadir.

Pada akhir semester ini, akhirnya aku memutuskan untuk mengoreksi kesalahan dua semester silam. Satu orang yang aku berkontribusi memperparah situasinya pada tahun sebelumnya. Mungkin waktunya kita membuka satu identitas dengan izin yang bersangkutan.

Namanya Winda. Aku menyapanya Kak Winda meski kami satu angkatan di kuliah. Kami berasal dari SMA yang sama, namun tidak pernah berinteraksi sebelum kelulusan. Aku tahu identitasnya setelah lulus, jadi itu menjelaskan 'tidak pernah berinteraksi'. Oh ya, kenapa kakak? Usiaku dibawah rata-rata sewaktu masuk, dan aku masuk satu angkatan di bawah dia.

Akhirnya, setelah 1 tahun, retakan itu bisa disembuhkan. Itu adalah retakan pertama dalam hidupku yang bisa aku kembalikan, dan entahlah, antara bahagia dan biasa saja kala itu. Dan mungkin retakan ini memang diberi kesempatan untuk sembuh, karena kami akan memerlukannya kemudian hari.

Pada akhir semester ini, ada undangan untuk keluar negeri. Aku tidak akan membicarakan rentetan kegiatan di sana, namun jujur aku masih kehilangan banyak kepingan dari masa-masa itu. Selain itu, ketua UKM berganti, dan aku meski dicalonkan, menolak karena tidak ada restu orang tua untuk berorganisasi (halo, saya memberontak untuk datang).


"Memang aku tidak bisa menjadi sempurna, dan aku mencoba menerimanya. Namun, perfeksionis dalam diriku akan menjebakku ke dalam paralysis yang membuatku berharap aku tiada."

"Aku berharap semuanya persis dengan rekayasa yang aku buat dalam benakku, tapi hidup suka memberikan belokan terjal diluar kalkulasiku."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Preparing Anaconda with Tensorflow [ACTUALLY WORKED FOR ME 2024]

Make sure to follow this with perfect order: 1. conda create -n tf_gpu tensorflow-gpu 2. conda activate tf_gpu 3. pip install numpy==1.23.4 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 4. pip install tensorflow-gpu==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] 5. pip install tensorflow==2.10 [EXECUTE GPU TEST CODE] ==> CODE MUST RETURN GPU NUMBER > 0 [#CONFIRMED] (You may skip the first two test, but it helps ensure your environment is set up right)   TRIVIA: - There's no 2.11 version of Tensorflow GPU on pip as shown below: ERROR: Could not find a version that satisfies the requirement tensorflow-gpu==2.11 (from versions: 2.5.0, 2.5.1, 2.5.2, 2.5.3, 2.6.0, 2.6.1, 2.6.2, 2.6.3, 2.6.4, 2.6.5, 2.7.0rc0, 2.7.0rc1, 2.7.0, 2.7.1, 2.7.2, 2.7.3, 2.7.4, 2.8.0rc0, 2.8.0rc1, 2.8.0, 2.8.1, 2.8.2, 2.8.3, 2.8.4, 2.9.0rc0, 2.9.0rc1, 2.9.0rc2, 2.9.0, 2.9.1, 2.9.2, 2.9.3, 2.10.0rc0, 2.10.0rc1, 2.10.0rc2, 2.10.0rc3, 2.1...

Prof Ashari, Tangan Dingin Sang Rektor Visioner

Tulisan ini dipersembahkan kepada Prof  Dr Ir. Mochamad Ashari, M.Eng, IPU,  AEng. yang merupakan rektor ke-12 ITS, periode 2019-2024. Seluruh tulisan ini berupa pandangan saya pribadi, sebagai ucapan terima kasih, meski disajikan seakan penuh kritikan pada bagian awalnya. Pertama saya mengenal nama ini, saya ingat dari salah satu dosen saya sewaktu saya masih menempuh sarjana. Saya lupa persis kapan, tetapi saya diperkenalkan tentang bagaimana visionernya Prof Ashari dan sedikit cuplikan peran beliau membangun Telkom University di Bandung. Ya, sebelum beliau dinobatkan sebagai rektor, saya berpikir bahwa 'apabila beliau jadi, sepertinya akan berpotensi revolusioner, atau bakal agak ekstrem dalam kebijakan'. Bagi saya, itu cukup menarik, tetapi ada ketakutan di benak saya dengan potensi ekstrem kebijakan beliau. Kala beliau dinobatkan sebagai rektor terpilih, Prof Ashari langsung bergerak cepat yang tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat langkah beliau. Saya masih ingat, d...

Kenapa Sekarang?

Years ago, I seek it. Dulu, aku berjuang untuk bisa melewati batas teman, trying to be someone that you consider as dearest. Yes, that's back then. As I said, had it been years ago, I would have straight out say YES out of sheer dumbness, or tenacity, or both. Tabun. I used to be full of desire to get you to acknowledge me, then. Sungguh lucu sekali, I would circumvent and try to just get any chance to meet with you. Aku menginginkan lebih, dulu. But no, it has always been someone else. Someone else get to be your priority, your attention. Berharap lebih adalah kesalahanku, dan aku selalu menganggapnya demikian. Why chase over the skies you cannot reach? I almost burned the entire bridge, truly. Only one more step and I know the entire relationship will turn into nothing more than smoldering ashes in the seas of lost time. You know, had you not talk to me within the short time of me settling my almost 9-years long illusion, perhaps the bridge had been burned completely, as I had wi...